Kita Sedang Dijual oleh Kemarahan Kita Sendiri

Pernahkah kita bertanya, mengapa begitu banyak hal di media sosial terasa begitu mudah membuat kita marah?

Satu video membuat kesal.
Satu komentar membuat tersinggung.
Satu berita membuat geram.
Lalu jari kita bergerak: komentar, membagikan, membalas, bahkan ikut menyebarkan.

Kita merasa sedang menyampaikan pendapat.

Padahal, bisa jadi kita sedang memberikan perhatian.

Belakangan muncul istilah outrage economy atau “ekonomi kemarahan”. Sederhananya, perhatian publik memiliki nilai ekonomi. Konten yang mampu memancing emosi kuat—termasuk kemarahan dan kontroversi—dapat menghasilkan interaksi yang tinggi, dan interaksi tersebut dapat bernilai bagi sebagian pihak melalui ekosistem monetisasi digital. Fenomena ini bahkan sedang menjadi perhatian di Indonesia.

Artinya, semakin kita marah, semakin kita berkomentar. Semakin kita berkomentar, semakin ramai. Semakin ramai, semakin besar perhatian.

Dan perhatian itu… bisa menghasilkan uang.

Tentu tidak berarti semua kontroversi sengaja diciptakan untuk mencari keuntungan. Tetapi kita perlu sadar bahwa ekosistem digital dapat memberikan insentif kepada konten yang berhasil membuat kita bereaksi.

Di sinilah kita perlu berhenti sejenak.

Jangan-jangan, kita terlalu sering mengira sedang mengendalikan media sosial, padahal emosi kita yang sedang dikendalikan olehnya.

Ironisnya, kita mungkin hanya mendapatkan lelah, marah, dan pertengkaran. Sementara orang lain mendapatkan views, engagement, popularitas, atau bahkan penghasilan.

Kita kehilangan ketenangan. Orang lain mendapatkan perhatian.

Maka, tidak mengherankan jika semakin banyak orang mulai mempertanyakan dampak media sosial. Survei Pew Research Center yang dirilis Oktober 2026 menunjukkan bahwa 43% masyarakat Indonesia yang disurvei menilai media sosial lebih banyak berdampak buruk terhadap demokrasi, meningkat dari 24% pada 2023.

Lalu apa yang harus kita lakukan? Bukan berarti kita harus meninggalkan media sosial.

Kita hanya perlu belajar menguasai diri ketika berada di dalamnya.

Islam telah mengajarkan bahwa kekuatan seseorang bukan hanya ketika ia mampu membalas, tetapi juga ketika ia mampu menahan amarah.

Tidak semua hal harus kita komentari. Tidak semua perdebatan harus kita menangkan. Tidak semua yang viral harus kita ikuti. Dan tidak semua yang membuat kita marah layak mendapatkan energi kita.

Kadang-kadang, diam bukan berarti tidak peduli. Kadang-kadang, tidak membagikan sesuatu adalah bentuk tanggung jawab. Dan kadang-kadang, menutup layar lalu kembali kepada keluarga, pekerjaan, ibadah, dan kehidupan nyata adalah bentuk keberanian untuk menyelamatkan diri.

Sebab pada akhirnya, hidup kita terlalu berharga jika hanya dihabiskan untuk marah kepada sesuatu yang bahkan tidak kita kenal.

Jangan sampai kemarahan kita menjadi rezeki bagi orang lain, sementara ketenangan kita menjadi korban.

Mungkin sudah waktunya kita bertanya sebelum menekan tombol share atau menulis komentar:

“Apakah ini benar-benar perlu saya sampaikan, atau saya hanya sedang bereaksi?”

Karena di zaman ketika perhatian menjadi komoditas, kemampuan untuk menjaga ketenangan adalah sebuah kemewahan.

Mari Berdiskusi:

Pernahkah Anda merasa media sosial membuat Anda lebih mudah marah daripada sebelumnya?

Apa yang Anda lakukan untuk menjaga hati tetap tenang di tengah derasnya informasi dan provokasi di dunia digital?

Semoga Allah memberi kita hati yang tenang, pikiran yang jernih, dan lisan yang selalu memilih kebaikan sebelum berbicara.

— Gus Massar

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *