STATEMENT GUS MASSAR — SEPTEMBER 2026
Oleh Gus Massar
Belakangan ini, Indonesia terasa semakin bising.
Setiap hari kita disuguhi berita baru, video baru, perdebatan baru, dan kemarahan baru. Linimasa media sosial berubah menjadi ruang sidang terbuka. Semua ingin berbicara, semua ingin didengar, tetapi sedikit yang benar-benar mau mendengarkan. Kita hidup di zaman ketika suara paling keras sering dianggap paling benar.
Padahal belum tentu demikian.
Beberapa pekan terakhir, ruang publik dipenuhi berbagai polemik nasional. Ada yang turun ke jalan menyampaikan aspirasi, ada yang membalas dengan opini, ada yang memotong video, ada yang menyebarkan narasi, dan tidak sedikit yang ikut menghakimi hanya berdasarkan potongan informasi. Hoaks dan disinformasi pun terus bermunculan, membuat masyarakat semakin sulit membedakan mana fakta dan mana prasangka. Akibatnya, ruang digital menjadi semakin gaduh dan rasa saling percaya semakin menipis.
Saya tidak ingin membahas siapa yang benar dan siapa yang salah. Karena sering kali, yang lebih penting bukan hanya memenangkan perdebatan, tetapi menyelamatkan persaudaraan.
Al-Qur’an mengajarkan satu adab yang hari ini terasa sangat mahal: tabayyun. Bukan sekadar memeriksa informasi, tetapi juga menahan diri sebelum bereaksi. Tidak semua yang viral harus dipercaya. Tidak semua yang berbeda harus dimusuhi.
Kadang yang kita butuhkan bukan jawaban yang cepat, tetapi hati yang tenang.
Indonesia adalah negeri yang dibangun dari keberagaman. Perbedaan pendapat adalah sesuatu yang wajar, bahkan sehat dalam kehidupan berbangsa. Yang berbahaya adalah ketika perbedaan berubah menjadi kebencian, dan kritik berubah menjadi permusuhan.
Jangan sampai kita kehilangan kemampuan mendengar hanya karena terlalu sibuk berbicara.
Mendengar bukan berarti selalu setuju. Mendengar adalah memberi ruang bagi akal untuk memahami sebelum hati memutuskan. Sebab banyak konflik tidak lahir karena perbedaan pandangan, tetapi karena tidak ada lagi kesediaan untuk saling mendengarkan.
Mungkin hari ini Indonesia memang sedang bising. Tetapi jangan biarkan hati kita ikut bising. Jadilah orang yang menghadirkan ketenangan di tengah kegaduhan, menghadirkan fakta di tengah prasangka, dan menghadirkan adab di tengah perdebatan.
Karena bangsa ini tidak kekurangan orang pintar. Bangsa ini lebih membutuhkan orang yang bijak.
Mari Berdiskusi
Menurut Anda, apa yang paling hilang dari ruang publik Indonesia hari ini: kemampuan mendengar, budaya tabayyun, atau rasa saling menghormati?
Semoga Allah menjaga lisan, jempol, dan hati kita agar menjadi pembawa kedamaian, bukan penambah kebisingan. Aamiin.

