Di bulan ini, hati kita sungguh diuji. Kabar duka silih berganti dari pelosok negeri. Kita bukan hanya membaca statistik tentang rumah roboh atau lahan terendam; kita menyaksikan luka batin yang mendalam dari saudara-saudara kita yang kehilangan segalanya. Bagi mereka, musibah ini adalah goresan takdir yang menguji sampai ke akar-akar kehidupan.
Reaksi kita, sebagai orang yang melihat, seringkali terbelah. Ada yang memilih pasrah total, merasa tak perlu berbuat apa-apa karena “sudah takdir.” Sebaliknya, ada yang sinis, sibuk menuntut dan menyalahkan, seolah semua bisa diselesaikan hanya dengan teknologi canggih.
Saya ingin mengajak kita sejenak untuk berhenti. Jika kita mau melihat musibah ini sebagai pesan, kita akan sadar bahwa alam tidak sedang menghukum. Alam sedang berbicara tentang keutuhan ikhtiar dan keyakinan kita.
Sebagai manusia yang dianugerahi akal dan bashirah (mata hati), sikap kita seharusnya utuh. Pertama, kita wajib berikhtiar semaksimal mungkin. Kita ini Khalifah di Bumi—pengelola yang harus cerdas. Merespons risiko bencana dengan ilmu mitigasi, mempelajari geologi, dan membangun dengan standar aman, itu semua adalah bentuk ibadah yang berakal. Kita alpa jika tahu ada risiko tapi memilih lalai. Ilmu dan kesiapsiagaan adalah bagian dari ikhtiar kita yang paling mulia.
Setelah akal kita bekerja, giliran hati kita harus hadir. Musibah adalah cermin spiritual. Bagi yang tertimpa, ini adalah ujian sejauh mana kesabaran dan keridaan itu bersemayam. Bagi kita yang selamat, ini adalah panggilan jiwa untuk empati dan solidaritas—membuktikan iman kita lewat Ikhsan, atau kebaikan tertinggi.
Saya juga perlu menitipkan pesan khusus bagi para pemimpin dan pejabat. Tanggung jawab Anda berat, melibatkan sumpah kepada rakyat dan kepada Tuhan. Saya ingin berpesan dengan tulus: Jangan jadi pemadam kebakaran. Jadilah pemimpin yang punya foresight. Gunakan data ilmiah untuk mitigasi proaktif. Dan yang terpenting: di tengah duka, integritas bantuan adalah marwah kepemimpinan Anda. Pastikan bantuan itu sampai kepada yang berhak, tanpa politik atau manipulasi. Keadilan dalam distribusi bantuan adalah implementasi nyata dari amanah.
Akhirnya, inilah pelajaran terdalamnya: kita sering keliru memaknai Tawakkal. Kita menganggapnya sama dengan pasrah. Padahal, petunjuk Nabi ﷺ jelas sekali: “Ikatlah untamu, lalu bertawakkallah.”
Artinya, Tawakkal itu tidak pernah berdiri sendiri. Ia hanya hadir setelah kita mengoptimalkan semua upaya: ikhtiar ilmiah, ikhtiar sosial, dan ikhtiar fisik. Setelah semua usaha maksimal dikerahkan, barulah kita serahkan hasilnya dengan hati yang tenang kepada-Nya. Inilah kedewasaan spiritual yang sejati.
Saudaraku, mari kita akhiri tahun ini dengan niat baru. Jangan biarkan musibah berlalu begitu saja. Jadikan tangan kita perpanjangan tangan Allah untuk membantu yang lemah, dan jadikan akal kita kompas untuk menjaga bumi.
Semoga Allah SWT menguatkan hati para korban dan membimbing kita semua untuk selalu berbuat yang terbaik.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

