Cermin Setahun: Saat Pemimpin Bersumpah, Rakyat Menjaga Marwah

Pembicaraan tentang evaluasi satu tahun pemerintahan Presiden Prabowo dan Gibran Rakabuming Raka di bulan Oktober lalu kini perlahan mereda. Di antara riuh itu, kita mendengar sebuah ikrar, sebuah sumpah lantang dari para pemimpin kita untuk memberantas ‘mafia’ dan menjaga ‘setiap rupiah’ uang rakyat. Ini adalah niat mulia yang patut kita sambut dengan harapan.

Kini, di saat suasana lebih hening, adalah waktu terbaik untuk muhasabah. Jika kita memandangnya dengan mata hati (bashirah), sumpah seorang pemimpin sesungguhnya adalah sebuah cermin besar yang diletakkan di hadapan kita semua.

Sumpah itu memantulkan sebuah pertanyaan tajam ke dalam diri kita: “Jika pemimpin bersumpah, lalu apa sumpah kita?”

Kita seringkali geram melihat kebocoran triliunan di puncak menara. Itu adalah kemungkaran. Namun, kita sering lupa pada percikan-percikan api yang kita maklumi dalam keseharian. Kita menuntut kejujuran penuh di istana, namun tanpa sadar kita berkompromi dengan ‘uang pelicin’ untuk selembar administrasi, atau menyerobot antrean yang jelas bukan hak kita.

Padahal, amanah adalah titipan suci untuk semua. Allah ﷻ berfirman:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil…” (QS. An-Nisa: 58)

Sumpah pemimpin untuk bersih-bersih tidak akan pernah terwujud jika tidak ditopang oleh sumpah rakyatnya untuk hidup jujur.

Lalu, bagaimana sikap bijak kita? Menyikapinya dengan sinisme dan cibiran hanya akan mematikan harapan. Sikap yang arif menuntut kita pada tiga hal: membersihkan diri, mengawasi dengan adab, dan mendoakan dengan tulus.

Pertama, membersihkan diri. Mari mulai ‘perang melawan korupsi’ dari rumah kita sendiri. Ajarkan anak kita arti qana’ah (merasa cukup) dan pastikan rezeki yang kita bawa pulang adalah rezeki yang halal.

Kedua, mengawasi dengan adab. Mengawasi adalah hak kita, namun lakukanlah dengan cara yang santun dan membangun. Mengingatkan dengan data, bukan dengan fitnah yang mengeruhkan suasana.

Ketiga, mendoakan dengan tulus. Jangan remehkan kekuatan doa. Kekuasaan itu ujian yang amat berat. Doakan para pemimpin kita agar dianugerahi kekuatan dan istiqamah (konsisten) dalam sumpahnya.

Saudaraku, momentum ini adalah pengingat untuk kita memperbarui niat bersama. Pemimpin bersumpah untuk melayani, dan kita sebagai rakyat bersumpah untuk menjadi warga negara yang berintegritas. Negeri ini adalah titipan, mari kita jaga bersama dengan marwah.

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing para pemimpin kita dan melapangkan hati kita untuk memulai perbaikan dari diri sendiri.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *